Pekanbaru – Gubernur Riau, Abdul Wahid, dalam konteks memperingati Hari Jadi ke‑68 Provinsi Riau, menegaskan kembali urgensi menjadikan Pulau Rangsang di Kepulauan Meranti sebagai Free Trade Zone (FTZ). Ia menekankan pentingnya skema bagi hasil baru dari pusat—sekitar 10% dari APBD pusat atau sekitar Rp 100 triliun—serta meminta Presiden Prabowo mendukung pengembangan FTZ di Meranti sebagai upaya memperkuat potensi ekonomi daerah .
Langkah ini selaras dengan aspirasi pengembangan kawasan perdagangan bebas yang sebelumnya telah dibahas dalam audiensi antara Permaskab Meranti dan Gubernur Riau pada 4 Juli 2025. Gubernur menyampaikan rencana Pemprov Riau untuk menjadikan Pulau Rangsang sebagai sentra logistik FTZ serta pengembangan pembangkit listrik tenaga surya untuk ekspor ke Singapura dan Malaysia. Selain itu, disampaikan juga rencana pembangunan jaringan listrik bawah laut ke Meranti
.

Di sisi lain, sebelumnya Mahmuzin Taher yang pernah mencalonkan dirinya sebagai Bupati Kepulauan Meranti pada Pemilukada 2024 lalu dalam kampanyenya pernah menekankan visi menjadikan Meranti sebagai kota dagang dan jasa unggul di timur Riau. Visi tersebut termasuk mengembangkan ekosistem ekonomi maritim melalui tata niaga yang lebih efektif dan pemberdayaan kerakyatan, serta mendorong keterlibatan sektor swasta dan investor dalam pengembangan ekonomi lokal
Arah Usulan Gubernur Riau dan Visi-Misi Mahmuzin Taher Titik Sinergi
FTZ di Pulau Rangsang sebagai zona logistik dan perdagangan bebas Mengembalikan Meranti sebagai kota dagang dan jasa unggul Kedua rencana mendorong Meranti menjadi pusat perdagangan dan ekonomi maritim
Pembangunan infrastruktur (pelabuhan, listrik, jalan) Pemberdayaan ekonomi lokal dan peningkatan tata kelola niaga Infrastruktur mendukung akses pasar dan aktivitas ekonomi yang inklusif
Pendekatan investasi dan energi alternatif (surya) Dorongan terhadap swastanisasi pembangunan dan investasi swasta Merangsang iklim investasi yang sejalan dengan misi Mahmuzin atas partisipasi swasta
Rencana Gubernur Riau dan visi Mahmuzin Taher tampaknya berjalan paralel dalam membentuk masa depan Meranti yang lebih maju secara ekonomi. Jika diwujudkan bersama, strategi seperti FTZ, konektivitas logistik, dan energi terbarukan dapat menjadi motor penggerak menuju era baru kemajuan di Kepulauan Meranti.
Semoga sinkronisasi antara kebijakan provinsi dan arah politik lokal ini dapat menjadi katalis perubahan konkret dalam RPJMD 2025–2029 dan RKPD 2026–2030.(IL)

